Kritik Arsitektur (Triansyah.M-4TB01-27312473)

tugas

 

ABSTRAKSI

 

Triansyah Martadijaya, 27312473

Judul : FASILITAS UMUM DI JALAN MARGONDA RAYA NO.56 PANCORAN MAS DEPOK

Jurusan Teknik Arsitektur. Fakultas Teknik Sipil & Perencanaan.

Universitas Gunadarma

 

Jumlah Halaman II + 10

 

Pengamatan dilakukan di Jalan Margonda Raya No. 56 Kelurahan Depok, Pancoran Mas Depok. Tujuan dari pelaksanaan pengamatan ini adalah untuk menambah pengetahuan mengenai pentingnya fasilitas umum untuk warga sekitar maupun warga pendatang, mengetahui keadaan dan kondisi lapangan secara langsung, serta mengetahui dampak baik dan buruknya apabila fasilitas umum tidak dijaga dengan baik, juga membandingkan ilmu yang di dapat di bangku kuliah dengan di lapangan. Kesimpulan yang di dapat dari hasil pengamatan berupa mengetahui seberapa pentingnya fasilitas umum untuk masyarakat, mengetahui permasalahan-permasalahan yang terjadi disekitar serta bagaimana solusi untuk memecahkan masalah tersebut.

 

 

Kata kunci : Fasilitas Umum, Pedestrian, Jembatan Penyebrangan Orang


BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan negara berkembang, Baik itu dari segi Ekonomi, infrastruktur dan juga dari segi peningkatan populasi manusianya. oleh karena itu pemerintah perlu memberikan fasilitas umum seperti ruang publik di setiap daerah. Semakin banyaknya ruang publik, maka bisa semakin menguntungkan masyarakat indonesia, Karena bisa sebagai sarana hiburan, tempat berkumpul, tempat berolahraga atau bisa menarik wisatawan yang sedang mencari destinasi wisata. Terbentuknya ruang publik masih belum sesuai dengan harapan. Karena meningkatnya kuantitas bangunan pemukiman atau gedung-gedung tinggi yang tidak di imbangkan dengan adanya ruang publik. Penataan kota akan lebih baik jika memiliki banyak ruang publik, sebagai  terwujudnya ruang yang nyaman, produktif dan berkelanjutan.

Ruang publik dapat di artikan sebagai tempat atau ruang yang dapat diakses atau dimanfaatkan oleh warga atau masyarakat secara cuma-cuma tanpa mengambil keuntungan dan bisa digunakan masyarakat secara bersama-sama baik secara individu maupun berkelompok tanpa terkecuali. Karena adanya kebutuhan akan tempat untuk bertemu, berkomunikasi, atau hanya untuk sekedar tempat refresing bersama keluarga. ruang publik dapat berkaitan dengan sosial, ekonomi, dan budaya. Dengan adanya ruang publik juga dapat sedikit mengurangi polusi udara dan penyerapan air tanah karena misalnya di taman diberi pohon penyejuk dan berbagai jenis tanaman untuk menghiasi taman.

 

1.2 Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan ini adalah :

  1. Memahi pentingnya fasilitas umum bagi masyarakat.
  2. Mengetahui setiap permasalahan yang ada pada fasilitas umum di daerah Depok.

 

 

BAB II

KAJIAN TEORI

 

2.1 Jalur Pedestrian

 

Jalan pedestrian (jalan pejalan kaki) disamping mempunyai unsur kenyamanan bagi pejalan kaki juga mempunyai andil bagi keberhasilan pertokoan dan vitalitas kehidupan ruang kota.

Sistem pedestrian yang baik akan mengurangi ketergantungan pada kendaraan bermotor di pusat kota, menambah pengunjung ke pusat kota, meningkatkan atau mempromosikan sistemskala manusia, menciptakan kegiatanan usaha yang lebih banyak, dan juga membantu meningkatkan kualitas udara.

 

Jalur pedestrian merupakan wadah atau ruang untuk kegiatan pejalan kaki melakukan aktivitas dan untuk memberikan pelayanan kepada pejalan kaki sehingga dapat meningkatkan kelancaran, keamanan, dan kenyamanan bagi pejalan kaki. Serta jalur pedestrian merupakan suatu wadah yang tidak nyata akan tetapi dapat dirasakan manusia. Jalur pedestrian merupakan suatu ruang publik dimana pada jalur tersebut juga terjadi interaksi sosial antar masyarakat. Terkadang dalam suatu perancangan kota, jalur pedestrian tersebut terlupakan untuk dirancang agar memberikan kenyamanan bagi para penggunanya. Contohnya, jalur pedestrian yang dipenuhi oleh pedagang kaki lima walau bukan berarti pedagang kaki lima tersebut harus disingkirkan; ketinggian trotoar yang tidak sama sehingga menyulitkan pejalan kaki yang naik turun, dan sebagainya.

 

Padahal jalur pedestrian memiliki fungsi utama yaitu menampung segala aktivitas pejalan kaki dan faktor elemen pendukung yang dapat mempengaruhi kenyamanan pedestrian, antara lain : keadaan fisik, sitting group, vegetasi atau pohon peneduh, lampu penerangan, petunjuk arah dan yang lainnya. Jalur pedestrian yang fungsional memiliki faktor pendukung yang membentuknya, antara lain : dimensi atau faktor fisik ( yang meliputi panjang, lebar, dan ketinggian dari area pedestrian itu sendiri ), aksesibilitas pedestrian, pelaku atau pengguna, frekuensi aktivitas yang terjadi, hubungan dengan lingkungan sekitarnya ( kawasan permukiman, perkantoran, perdagangan, dan magnet kota yang mendukung terjadinya interaksi sosial ).

 

Disamping hal tersebut terdapat pula faktor psikis, antara lain keamanan ( sampai sejauh mana jalur pedestrian tersebut memberikan rasa aman bagi penggunanya, baik rasa aman dari jalan maupun dari pedestrian itu sendiri ), kenyamanan ( apakah jalur pedestrian tersebut telah memberikan kenyamanan bagi penggunanya serta apakah faktor – faktor yang mendukung kenyamanan telah terpenuhi seperti : suasana dan kesan, sirkulasi yang tercipta apakah telah memenuhi standart kenyamanan, elemen pendukung yang lengkap).

 

Isu utama perancangan jalan pedestrian menyangkut “keseimbangan”

seberapa untuk pejalan kaki dan seberapa untuk kendaraan. Di samping itu,

keselamatan pejalan kaki juga menjadi isu utama. Selain itu, di Indonesia, dan juga

di beberapa negara berkembang lainnya (antara lain: Muangthai), jalan pedestrian

sering berkaitan dengan masalah kakilima (pedagang sektor informal).

Apabila ruang pejalan kaki lebih luas daripada yang diperlukan maka terasa “sepi”,  bila kurang akan terasa padat atau sesak  Kepadatan ini seringkali baik karena kerumunan orang akan menarik perhatian orang lain untuk mendekat dan ikut

bergabung.

 

Ada contoh jalan pedestrian sengaja dibuat lebih lebar daripada kebutuhan pejalan

kaki dengan alasan untuk juga mewadahi kegiatan pedagang sektor informal (kakilima). Kegiatan lain diperlukan untuk mendukung kehidupan jalan pedestrian, seperti: pertunjukan, penjual makanan, dan tempat janji bertemu (rendezvous points).

Macam bangunan atau fasilitas (termasuk pula: perabotan jalan) sepanjang jalan

pedestrian juga mempengaruhi hidup-matinya jalan pedestrian. Misal: bila hanya ada

kantor dan bank maka jalan pedestrian sepi; maka perlu ada toko-toko kecil atau

department store di sepanjang jalan pedestrian serta dilengkapi dengan bangku-bangku.

20160112_15535520160112_155702

Gambar 2.1 Jalur Pedestrian yang kurat terawat

(sumber: Data Pribadi, Januari 2015)

            Kritik : Jalur pedestrian di kota Depok sangat kurang nyaman dan aman untuk para pengguna jalur pedestrian. Karena banyak keramik yang rusak (retak) disepanjang jalur pedestrian , disamping itu area yang sangat kurang lebar untuk berjalan kaki yang mengakibatkan sering terjadinya tabrakan antara pejalan kaki satu dengan yang lainnya apabila jalur pedestrian sedang ramai.

Keramain yang terjadi dijalur pedestrian ini sekitar pukul 16.00-21.00 dikarenakan waktu tersebut semua pegawai pulang dari kantornya. Selain lantai keramik yang rusak/retak di area jalur pedestrian ini juga terlihat tumpukan sampah yang dibuang dipinggir jalan raya dikarenakan dijalur pedestrian tersebut sangat kurangnya tempat sampah yang seharusnya disediakan oleh pemerintah kota.

Kemacetan didekat jembatan penyebrangan terminal juga sering terjadi akibat banyaknya angkutan kendaraan umum yang berhenti mencari penumpang. Kemacetan dapat mencapai beberapa km dari jembatan penyebrangan dekat terminal hingga depan kantor wali kota.

 

20150609_091733

Gambar 2.2 Jalur Pedestrian yang digunakan parkir

(sumber: Data Pribadi, Januari 2015)

            Di jalur pedestrian ini juga terlihat masih ada yang parkir motor di area pedestrian yang menyebabkan sedikit terganggunya pengguna jalur pedestrian di waktu tertentu karena area yang sudah kecil akan menjadi kecil lagi.

Semestinya disediakan area parkir umum untuk mencegah kejadian seperti itu dan kesadaran pengguna jalan harus lebih besar lagi, karena apa yang dilakukannya dapat merugikan orang lain.

Pada siang hari jalur pedestrian terasa sangat panas dikarenakan sedikitnya pepohonan yang berada disepanjang jalur pejalan kaki, hal ini salah satu faktor mengapa warga enggan untuk menggunakan jalur pejalan kaki untuk menaiki angkutan umum atau ke tempat yang ditujunya.

Di sepanjang jalur pedestrian juga tidak terlihat adanya bangku-bangku untuk warga duduk beristirahat sejenak  dan pada jalur pedestrian tidak terlihat adanya jalur khusus penyandang disabilitas.

Gambar 2.3 Jalur Pedestrian yang kurat terawat

(sumber: Data Pribadi, Januari 2015)

 

Kebersihan dan perawatan di fasilitas umum sangat kurangnya mendapat perhatian dari para pengguna jalur pedestrian. Disepanjang jalur pedestrian masih banyak fasilitas umum yang dicoret-coret oleh orang yang tidak bertanggung jawab yang mengakibatkan area tersebut terlihat kumuh dan kotor.

 

Saran : – Disediakannya area parkir agar tidak adanya yang parkir sembarangan.

  • Melakukan perawatan rutin terhadap fasilitas umum agar terjaga kenyamanannya.
  • Memberikan sanksi/hukuman terhadap orang yang coret-coret tembok agar jera.
  • Menyediakan tempat sampah disepanjang jalur pedestrian.
  • Menyediakan tempat duduk disepanjang jalur pedestrian.
  • Melakukan penertiban lebih tegas terhadap supir yang mencari penumpang disepanjang jalan agar kemacetan dapat teratasi.
  • Memberikan jalur khusus penyandang disabilitas.

 

2.2 Perpapanan – Nama / Reklame

 

Dari segi perancangan kota, papan/nama/reklame/informasi perlu diatur agar terjalin kecocokan lingkungan, pengurangan dampak visual negatif, mengurangi

kebingungan dan kompetisi antara papan informasi publik dan papan reklame. Papan

nama/reklame yang dirancang baik akan menambah kualitas tampilan bangunan dan

memberi kejelasan informasi usaha

 

 

Dalam mewujudkan suatu fasilitas social yang baik dan nyaman ada  beberapa hal yang perlu diperhatikan:

 

(1) visibilitas (keterlihatan) papan/tanda (terpengaruh oleh faktor lokasi, tiang

penempatan, cat pantul dan sebagainya);

(2) legibilitas informasi (keterbacaan, kejelasan), yang berkaitan dengan macam dan

ukuran huruf, jarak antar huruf, lokasi, warna dasar, warna huruf dan

sebagainya); juga tetap terbaca dari kendaraan yang bergerak;

(3) “keseimbangan” antara pengendalian kesemrawutan dan penciptaan perhatian

serta sambil memancarkan pesan/informasi;

(4) keharmonisan papan nama/reklame dengan arsitektur bangunan di dekatnya;

perlu juga pengendalian ukuran tanda/papan yang mengganggu vistas kota;

(5) pengendalian pemakaian lampu kedip untuk reklame (kecuali untuk tanda

keselamatan lalulintas/tanda “hati-hati”, atau untuk bioskop dan sebagainya

 

Kritik : Di Depok pemasangan papan iklan, spanduk iklan, spanduk kampanye, dan sebagainya  masih dilakukan disembarang tempat, yang menyebabkan terlihat kumuh atau kotornya bangunan yang ada didekat tempat pemasangan spanduk tersebut.

Ukuran spanduk / papan reklame juga bervariasi, hal ini menyebabkan kesemrawutan yang menyebabkan kurang tersampaikannya informasi-informasi yang ada pada spanduk tersebut.

Ukuran tulisan dan jenis huruf pada spanduk juga bervariasi ada jenis huruf yang mudah dibaca ada juga jenis huruf yang sulit dibaca, ukuran tulisan juga mempengaruhi tersampai atau tidaknya informasi yang ada pada papan reklame.

Saran : – Memberikan tempat khusus untuk memasang papan reklame.

  • Memberikan peraturan untuk menyelaraskan ukuran papan reklame.
  • Memberikan peraturan untuk menyelaraskan ukuran tulisan dan jenis huruf papan reklame.
  • Memberikan sanksi terhadap orang yang memasang papan reklame disembarang tempat.

 

2.3 Jembatan Penyebrangan Orang

 

Gambar 2.4 Jembatan Penyebrangan Orang (JPO)

(sumber: Data Pribadi, Januari 2015)

            Jembatan penyeberangan orang disingkat JPO adalah fasilitas pejalan kaki untuk menyeberang jalan yang ramai dan lebar atau menyeberang jalan tol dengan menggunakan jembatan, sehingga orang dan lalu lintas kendaraan dipisah secara fisik.

 

Jembatan penyeberangan juga digunakan untuk menuju tempat pemberhentian bis (seperti busway Transjakarta di Indonesia), untuk memberikan akses kepada penderita cacat yang menggunakan kursi roda, tangga diganti dengan suatu akses dengan kelandaian tertentu. Langkah lain yang juga dilakukan untuk memberikan kemudahan akses bagi penderita cacat adalah dengan menggunakan tangga berjalan ataupun dengan menggunakan lift.

Kesadaran warga Depok untuk menaati rambu lalu lintas masih sangat minim. Hal itu terlihat di sepanjang Jalan Margonda Raya, terutama di depan Terminal Depok. Meski pemerintah telah menyediakan jembatan penyeberangan orang (JPO), namun masih banyak warga yang memilih melintas di bawah JPO dan menerobos pagar median jalan.

Padahal Petugas Lalu Lintas Kepolisian Resor Kota Depok sudah sering kali mengingatkan para penyeberang jalan. Bahkan, mereka telah memasang tali yang memungkinkan para penyeberang tidak dapat melewati pagar buka-tutup di depan terminal. Tapi tetap saja dilewati, memang kesadarannya masih sangat kurang, kebanyakan orang lebih mementingkan cara yang instan dan cepat namun cara yang mereka lakukan sangat

membahayakan bagi diri mereka masing-masing dan dapat membahayakan pengendara motor lainnya.

Jalan Margonda Raya cukup lebar, mencapai 32 meter dan kendaraan yang melintas juga cukup padat. Namun, warga yang keluar dari terminal banyak yang tidak sabar untuk menyeberang melalui JPO. Kebanyakan menyebutkan tidak mau capek dan malas untuk naik tangga dan menyebrang melalui JPO. Kebanyakan warga, lebih memilih menerobos di sela tali pagar dibandingkan menyebrang melalui JPO.

JPO Terminal berada di antara pintu masuk dan pintu keluar terminal sehingga warga dari pintu terminal harus berjalan sekitar 50 meter untuk mencapai JPO. Banyak warga yang mengabaikan keberadaan JPO tersebut sehingga mereka memilih menyeberang jalan dengan menahan kendaraan yang melaju.

Lebarnya Jalan Margonda dan padatnya kendaraan seharus membuat warga sadar akan keselamatannya. Namun, mereka memilih menunggu jalan lenggang kemudian bersusah payah melewati pagar pembatas. Padahal, petugas telah memasang rambu “Dilarang Menyeberang” di tempat tersebut.

Kritik : Pada Jembatan Penyebrangan masih ada orang yang lewat membuang sampah pada area pot tanaman yang terdapat di area jembatan penyebrangan. Itu membuktikan kurangnya tempat sampah pada area ini. Area pot juga terlihat kurang diperhatikan dan dirawat sehingga tanaman yang ada tidak tumbuh dengan baik.

 

Pada malam hari masih minimnya penerangan yang mengakibatkan kurangnya minat masyarakat untuk menyebrang melalui jembatan penyebrangan. Selain kurang penerangan keamanan diatas jembatan juga masih kurang, hal tersebut mengakibatkan masyarakat juga berfikir dua kali untuk menyebrangan melalui jembatan penyebrangan.

 

Di atas jembatan masih banyak pedagang kaki lima yang berjualan, dengan adanya pedagang kaki lima tersebut menyebabkan kenyamanan ketika menyebrang melalui jembatan penyebrangan menjadi berkurang. Disamping itu JPO juga tidak adanya jalur khusus penyandang disabilitas yang menyebabkan sulitnya menyebrang untuk orang yang memiliki kebutuhan lebih.

 

Masih banyaknya warga yang menyebrang tidak menggunakan fasilitas JPO yang telah disediakan dengan alasan buru-buru, tidak mau capek naik tangga dan sebagainya. Padahal hal tersebut sangat berbahaya untuk mereka sendiri dan orang lain.

 

Saran : – Diberikannya tempat sampah diatas JPO.

  • Melakukan perawatan terhadap pot tanaman yang telah tersedia.
  • Memberikan lebih banyak lagi penerangan dan keamanan pada malam hari di jembatan penyebrangan agar masyarakat merasa aman dan mau untuk menyebrang di JPO.
  • Menertibkan pedagang kaki lima yang berjualan diatas JPO agar kenyamanan tetap terjaga.
  • Memberikan jalur khusus untuk penyandang disabilitas agar dapat menyebrang di JPO.

2.4 Sirkulasi dan Perparkiran

 

Perparkiran mempunyai dua dampak langsung terhadap kualitas lingkungan,

yaitu:

  1. Keberlangsungan kegiatan perdagangan di pusat kota, dan
  2. Dampak visual bentuk kota.

 

Sirkulasi dapat membentuk, mengarahkan, dan pengendalikan pola kegiatan (dan juga pembangunan)kota

 

Kritik : Disepanjang jalan raya Depok terutama jalan di depan terminal hingga tugu jam masih banyak pengendara motor yang masih berhenti sembarangan, parkir sembarangan. Hal tersebut sering sekali membuat jalan tersebut macet .

Selain pengendara motor, supir angkutan umum juga sering sekali membuat jalan tersebut macet akibat angkutan umum berhenti disembarang jalan.

 

Solusi perparkiran meliputi:

 

(1) permbangunan fasilitas parkir pada kawasan

yang belum mempunyai dengan cukup memadai, dengan mempertimbangkan

dampak visual bentuk kotanya;

(2) penggunaan ganda terhadap fasilitas parkir yang ada (misa l: parkir perkantoran yang hanya dipakai siang hari dapat digunakan untuk parkir kegiatan perdagangan di malam hari);

3) “paket parkir”, yaitu perusahaan

yang mempunyai karyawan banyak perlu punya kawasan parkir tersendiri dekat atau

jauh (remote) dari lokasi perusahaan (satu paket dengan pendirian perusahaannya)

(4) parkir di pinggir kota atau pinggir pusat kota, yang dibangun pengembang

dengan bantuan Pemerintah (dari lokasi tersebut disediakan angkutan murah

 

Perparkiran mempunyai dua dampak langsung terhadap kualitas lingkungan,

yaitu:

(1)    keberlangsungan kegiatan perdagangan di pusat kota.

(2) dampak visual bentuk kota. Sirkulasi dapat membentuk, mengarahkan, dan     mengendalikanpola kegiatan (dan juga pembangunan) kota.

Solusi perparkiran meliputi:

  1. permbangunan fasilitas parkir pada kawasan yang belum mempunyai dengan cukup memadai, dengan mempertimbangkan dampak visual bentuk kotanya.
  2. penggunaan ganda terhadap fasilitas parkir yang ada (misal: parkir perkantoran yang hanya dipakai siang hari dapat digunakan untuk

parkir kegiatan perdagangan di malam hari)

3. “paket parkir”, yaitu perusahaan yang mempunyai karyawan banyak perlu punya     kawasan parkir tersendiri dekat atau jauh (remote) dari lokasi perusahaan (satu paket   dengan pendirian perusahaannya.

parkir di pinggir kota atau pinggir pusat kota, yang dibangun pengembang dengan bantuan Pemerintah (dari lokasi tersebut disediakan angkutan murah ke pusat kota).

BAB III

KESIMPULAN

 

3.1  Kesimpulan

Kesimpulan yang di dapat dari hasil pengamatan berupa mengetahui seberapa pentingnya fasilitas umum untuk masyarakat, mengetahui permasalahan-permasalahan yang terjadi disekitar area fasilitas umum yang terletak di Jalan Margonda Raya No. 56 Kelurahan Depok, Pancoran Mas Depok, masih kurangnya fasilitas pendukung untuk menciptakan keadaan yang nyaman, aman untuk para pengguna fasilitas umum itu sendiri, serta mengetahui bagaimana solusi untuk memecahkan masalah tersebut.

 

 

Daftar Pustaka

https://id.wikipedia.org

http://urbanplanology.blogspot.co.id/2011/10/jalur-pedestrian-untuk-kenyamanan.html

http://metro.tempo.co/read/news/2014/11/03/083619005/warga-depok-enggan-naik-jembatan-penyeberangan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s